Pasien “Selundupan” Di Era BPJS Berbahaya

30Jul, 2019

Lho, di rekam medis tertulis kalau Mbak sudah pernah menjalani operasi usus buntu. Kok, ini usus buntu lagi?”, tanya dokter jaga di Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit. Lebih kaget lagi ternyata saat diperiksa bekas operasi yang lama tidak ada. Akhirnya, kakak pasien pun mengaku, “Maaf, dok. Yang pernah dioperasi usus buntu itu saya. Ini adik saya. Karena dia belum punya kartu BPJS jadi saya pinjamkan.” 

Pernahkah Anda meminjam atau meminjamkan kartu kepesertaan BPJS Anda kepada orang lain? Kalau belum, jangan. Dan kalau sudah, Anda perlu tahu kalau ada risiko-risiko yang mungkin terjadi, termasuk dipenjara atau bahkan melayangnya nyawa Anda sendiri.

Satu kartu untuk satu peserta

Seperti dikatakan oleh Dr. Eva Melinda, tidak disangkal, hadirnya Jaminan Kesehatan Nasional yang kita kenal dengan BPJS sangat membantu masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang selama ini sulit didapatkan. Namun, entah karena ingin irit, pelit, kasihan, atau tidak mau repot, ada sebagian masyarakat yang menyalahgunakan kartu kepesertaan BPJSnya untuk dipinjamkan ke orang lain. Padahal, satu kartu kepesertaan hanya berlaku untuk satu peserta, tidak bisa dipinjamkan ke tetangga, keluarga, atau orang lain. Jangan sampa karena awalnya berniat baik, Anda didakwa melakukan penipuan.

Ya, menggunakan kartu peserta orang lain atau meminjamkan kartu Anda kepada orang lain berarti Anda bekerja sama untuk melakukan pemalsuan identitas. Pada asuransi swasta, jika hal ini terjadi, pihak asuransi akan menghentikan semua manfaat polis, bahkan dapat menuntut Anda ke pengadilan. Dan walaupun tidak diketahui, penggunaan asuransi oleh orang lain dapat memengaruhi besarnya perlindungan yang diberikan saat Anda yang benar-benar membutuhkan. Jika hal ini terjadi pada sistem BPJS, dokter dapat menolak memberikan pelayanan dan pasien harus membayar sendiri biaya perawatannya.

Membahayakan Kesehatan

Ah, kalau tidak ketahuan kan tidak apa-apa. Anda yakin? Pemalsuan identitas oleh pengguna kartu BPJS ternyata dapat sangat membahayakan kesehatan dan jiwa pemilik maupun penebeng kartu. Setiap kali berobat, dokter akan membuat catatan di buku rekam medis yang berisi seluruh riwayat kesehatan Anda. Jika ada orang yang menggunakan kartu Anda, catatan kesehatannya juga akan dicatat pada buku Anda. Dan seorang dokter umumnya tidak hanya akan melihat penyakit yang diderita saat itu, tetapi juga catatan-catatan kesehatan sebelumnya. Akibatnya, dokter dapat salah mendiagnosis atau meresepkan obat. Mari kita lihat beberapa contoh.

Amin tiba-tiba mengalami sesak napas setelah batuk-batuk selama tiga hari. Setelah diperiksa, dokter memutuskan untuk memberikan antibiotik Amoksisilin untuk Amin karena melihat catatan medis sebelumnya Amin cocok menggunakan obat Amoksisilin. Padahal, sesungguhnya ia alergi terhadap antibiotik Amoksisilin. Setelah obat diberikan, Amin mengalami reaksi alergi berat hingga makin sesak dan mengalami syok. Akhirnya Amin terpaksa dirawat di ICU. Setelah diselidiki, ternyata Amin pernah meminjamkan kartu BPJSnya kepada tetangga yang saat itu belum punya kartu BPJS.

Contoh Pasien Selundupan

Contoh kedua, David, 12 tahun, mengalami demam berdarah dan perlu segera dirawat di rumah sakit. Padahal, orang tua David belum sempat mengurus kartu BPJS. Karena kasihan, tetangganya yang bernama Bu Indah meminjamkan kartu BPJS anaknya untuk David. Setelah dirawat, ternyata kondisi David mengharuskannya mendapat transfusi darah. Karena di rekam medis golongan darahnya adalah AB, maka orang tua David diminta untuk mencari darah dengan golongan AB. Dokter menjelaskan bahwa darah golongan AB tidak bisa mendapat darah dari golongan darah lain. Kesalahan transfusi sangat berbahaya dan dapat berakibat fatal. Mendengar hal itu, akhirnya orang tua David mengaku bahwa golongan darah David adalah B. Yang bergolongan darah AB adalah Sonny, anak Bu Indah yang meminjamkan kartu BPJSnya.

Contoh ketiga, Ani berobat menggunakan kartu BPJS kakaknya dengan keluhan mual-mual. Saat ditanya apakah sedang hamil, Ani keceplosan dan mengatakan tidak mungkin karena ia masih gadis. Padahal, dari catatan medis tertulis bahwa ia sudah dua kali melahirkan melalui operasi Caesar. Saat diminta untuk menunjukkan bekas lukanya, Ani pun tidak bisa. Akhirnya, dokter tidak mau melanjutkan pelayanan kesehatan dan meminta Ani mendaftar berobat atas namanya sendiri. 

Contoh lain, Pak Saleh berobat hipertensi dan jantung menggunakan kartu BPJS anaknya, Imron, sebulan yang lalu. Saat giliran Imron sakit kepala, dokter melihat riwayat adanya hipertensi dan penyakit jantung sehingga ia memberikan obat jantung dan hipertensi juga kepada Imron. Akibatnya, Imron malah bertambah pusing bahkan pingsan. Saat dibawa ke rumah sakit, Imron menyalahkan dokter karena salah memberi obat. Padahal, dokter memberikan resep tidak hanya berdasarkan kondisi Imron saat itu, tetapi juga merujuk dari riwayat penyakit sebelumnya. 

Dari contoh-contoh ini, jelas bahwa kartu peserta asuransi, termasuk BPJS, seratus persen tidak boleh dipinjamkan kepada orang lain.Selain obat dapat tercampur aduk karena penyakit yang tidak Anda miliki, hal ini dapat berdampak fatal jika terjadi kesalahan transfusi darah dan adanya alergi obat.

Memiliki Dampak Luas

Penggunaan kartu BPJS oleh orang lain ternyata tidak hanya dapat berdampak secara hukum dan kesehatan. Jika ada seribu penduduk yang menggunakan kartu kepesertaan orang lain, bayangkan berapa kerugian yang harus ditanggung oleh BPJS. ‘Keegoisan” ini dapat menyebabkan terkorupsinya biaya kesehatan yang seharusnya dapat dialokasikan kepada peserta  BPJS lainnya. 

Tindakan ‘sok baik’ meminjamkan kartu BPJS Anda juga berisiko terbukanya rekam medis Anda sendiri sehingga orang lain mengetahui penyakit apa saja yang pernah Anda derita. Sebaiknya, jika kartu Anda digunakan untuk mengobati penyakit menular seksual dan hal ini diketahui atasan orang lain, bukan tidak mungkin Anda yang akan punya citra buruk, hubungan dengan pasangan menjadi rusak, atau dipecat dari pekerjaan. Satu hal yang juga dapat membuat Anda repot sendiri adalah jika ternyata peminjam kartu Anda meninggal di rumah sakit. Kepesertaan Anda menjadi terancam dan Anda dinaytakan sudah ‘meninggal’. Walhasil, Anda terpaksa harus mengaku ke kantor BPJS bahwa Anda telah meminjamkan kartu kepada orag yang tidak berhak.

Karena dapat menyebabkan terjadinya kesalahan diagnosis atau terapi, dokter dan tenaga-tenaga medis yang terkait dapat mendapat citra buruk, dituding melakukan malpraktik, dan kehilangan pekerjaan. Lebih buruk lagi, mereka akan merasa bersalah karena telah mencederai orang lain. 

Dokter, Ayo Waspada

Jadi, pasien BPJS ‘selundupan’ tidak hanya merugikan peserta dan peminjam. Dokter serta institusi yang menaunginya juga dapat dirugikan. Karena itu, tidak ada salahnya dokter meningkatkan sedikit kewaspadaannya akan peserta-peserta palsu ini. 

Jika usia peserta dan pasien yang berobat sepertinya berbeda cukup jauh, dokter boleh curiga jangan-jangan kartu BPJS yang digunakan bukan miliki si pasien. Pada umumnya, jika pasien sudah sering berobat atau memiliki penyakit kronis, penggunaan kartunya oleh orang lain akan lebih mudah diketahui. Anda dapat mencocokkan penyakitnya yang sekarang dengan penyakitnya yang terdahulu. Dengan anamnesis yang cerdik, teliti, dan menguji pengetahuan pasien tentang penyakit yang ia derita sebelumnya, biasanya akhirnya pasien akan mengakui bahwa ia meminjam kartu milik orang lain. Anda dapat juga mencocokkannya dengan kartu identitas lain yang dimiliki pasien. 

BPJS sendiri mengakui ingin menerapkan sistem sidik jari bagi setiap anggota BPJS. Selama ini, penggunaan kartu masih sangat rentan dipalsukan, bahkan dapat dipinjamkan oleh peserta kepada orang lain. “Kalau menggunakan sidik jari jelas tidak bisa dipalsukan, tidak perlu membawa kartu KIS, dan tidak bisa dipinjamkan. Tentunya ini akan cepat membantu dalam hal pelayanan,” kata Dr. Eva Melinda

Jika ternyata benar pasien adalah pasien BPJS ‘selundupan’, apa yang harus dokter lakukan? Pelayanan kesehatan toh tetap harus berjalan. Yang terbaik adalah meminta pasien untuk berobat dengan identitasnya sendiri, dengan atau tanpa kartu BPJS. Jika pelayanan tetap diteruskan dengan kartu peserta lain, ini menyalahi aturan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *