Medical Check Up, Tujuan, Pentingnya dan Risikonya

15Sep, 2019

Medical check up adalah pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Melalui pemeriksaan ini diharapkan suatu penyakit atau gangguan kesehatan bisa dideteksi sejak dini. Tes ini sekaligus berguna untuk merencanakan metode penanganan dan pengobatan yang tepat sebelum penyakit berkembang.

Dikatakan oleh Dr. Eva Melinda, saat medical check up, pasien akan menjalani sejumlah tahapan pemeriksaan menyeluruh, berupa konsultasi mengenai keluhan yang sedang dirasakan, pencatatan dan pemeriksaan berkaitan dengan riwayat kesehatan, pemeriksaan tanda key tubuh dan kondisi fisik secara umum.

Indikasi Medical Check Up

Medical check up secara rutin dapat meningkatkan peluang untuk tetap sehat dan memiliki usia yang lebih panjang. Mengetahui kondisi kesehatan terkini guna mempersiapkan bentuk penanganan secara dini jika ditemukan adanya penyakit atau gangguan kesehatan. Mengetahui risiko-risiko penyakit yang mungkin bisa muncul di kemudian hari. Mendorong pasien untuk beralih ke gaya hidup sehat. Berikut ini adalah sejumlah hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan medical check up, diantaranya;

  1. Informasikan kepada dokter apabila sedang menjalani pola makan atau diet tertentu.
  2. Beri tahu dokter apabila sedang mengalami pusing, kelelahan, gangguan buang air kecil atau besar, perubahan siklus menstruasi, depresi, atau kecemasan.

Sebelum Medical Check Up

Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum medical check up. Pasien disarankan untuk membawa data medis penting, seperti foto Rontgen atau hasil dari pemeriksaan kesehatan yang sebelumnya pernah dilakukan. Tanyakan juga kepada dokter atau paramedis mengenai perlunya puasa sebelum melakukan pemeriksaan.

Sebelum rangkaian pemeriksaan dilakukan, akan diberikan kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang mengacu pada kondisi kesehatan saat ini dan yang terdahulu. Berikan daftar obat, suplemen, atau herba yang sedang dikonsumsi. Tiap melakukan medical check up, usahakan untuk selalu didampingi oleh keluarga atau kerabat dekat.

Prosedur Medical Check Up

Bentuk-bentuk tes dalam medical check up sangat bervariasi. Tes akan disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, dan kondisi kesehatan pasien. Pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh meliputi:

  • Pemeriksaan riwayat kesehatan. Pada tahap awal medical check up, pasien akan ditanyakan mengenai sejumlah keluhan kesehatan yang dialami. Dokter juga akan mengajukan beberapa pertanyaan mengenai gaya hidup, seperti pola makan, intensitas olahraga, kebiasaan merokok, atau konsumsi minuman beralkohol.
  • Pemeriksaan tanda vital. Tanda-tanda vital yang diperiksa, di antaranya meliputi:
  1. Frekuensi denyut jantung. Denyut jantung normal adalah 60-100 kali per menit.
  2. Frekuensi de ernapasan. Pernapasan normal berkisar antara 12-20 kali per menit.
  3. Suhu tubuh. Suhu badan normal rata-rata berkisar antara 36-37 derajat Celcius.
  4. Tekanan darah. Tekanan darah yang dikatakan normal adalah 90/60 mmHg sampai di bawah 120/80 mmHg.

Pemeriksaan fisik

Sebelum pemeriksaan fisik, dokter akan meminta untuk melepaskan pakaian dan aksesoris yang menempel pada tubuh, termasuk rias wajah yang digunakan. Beri tahu dokter bila merasa tidak nyaman untuk melepas pakaian. Pemeriksaan fisik akan dimulai dari mengukur berat badan dan tinggi badan, untuk mengetahui bila terdapat kekurangan atau kelebihan berat badan.

Selanjutnya dokter akan memeriksa secara teliti seluruh bagian tubuh mulai dari kepala sampai dengan kaki. Orang yang diperiksa dapat diminta berdiri, duduk, atau tidur terlentang sesuai area yang akan diperiksa. Mulai dari melihat apakah ada kelainan pada kulit, menekan dan mengetuk bagian tubuh tertentu. Bila terdapat rasa nyeri saat penekanan atau pengetukan, informasikan kepada dokter. Pada wanita, pemeriksaan payudara akan dilakukan dengan melihat dan menekan area payudara, dengan sebelumnya meminta ijin. Dokter juga akan memeriksa daerah lipatan seperti ketiak atau lipat paha untuk mendeteksi kemungkinan benjolan yang timbul di daerah tersebut.

Dokter akan menggunakan alat bantu seperti otoskop untuk memeriksa keadaan telinga dan stetoskop untuk mendengar bunyi jantung, paru-paru, dan saluran pencernaan.

Beberapa pemeriksaan seperti pemeriksaan kekuatan otot, memerlukan kerja sama orang yang diperiksa untuk melakukan gerakan sesuai dengan yang diperintahkan dokter. Jangan ragu untuk bertanya kepada dokter mengenai instruksi yang diperintahkan, bila kurang mengerti.

Pada pemeriksaan fisik, termasuk juga pemeriksaan kelamin. Pada laki-laki akan diperiksa manhood dan testis, untuk melihat adanya infeksi, peradangan, perubahan ukuran, dan benjolan yang mungkin timbul. Untuk memeriksa prostat, dokter akan melakukan pemeriksaan colok dubur untuk meraba ada tidaknya pembesaran ukuran dari kelenjar prostat. Sedangkan pada wanita, akan diperiksa area vagina, vulva, dan serviks.

Pemeriksaan penunjang

  1. Pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan dengan sampel darah, urin, dan tinja untuk melihat jumlah sel darah, zat kimia yang menjadi penanda fungsi manhood, kolesterol, gula darah, serta kelainan pada urine dan tinja, baik secara penampilan fisik, kimia yang terkandung, maupun secara mikroskopik menggunakan bantuan mikroskop. Tergantung dari tujuan medical check up, terkadang juga dilakukan pemeriksaan terhadap penanda tumor dalam tubuh.
  2. Pemeriksaan pencitraan. Pemeriksaan pencitraan seperti USG dan foto Rontgen digunakan untuk melihat kondisi penis seperti paru-paru, hati, pankreas, ginjal, limpa, dan kandung kemih, serta prostat pada pria dan rahim pada wanita. Pada wanita, pemeriksaan foto Rontgen payudara (mammografi) atau USG mammae (payudara) akan dilakukan untuk mendeteksi adanya tumor payudara.
  3. Pemeriksaan rekam jantung. Pemeriksaan rekam jantung atau elektrokardiografi (EKG) merupakan tes untuk merekam aktivitas listrik jantung dengan menggunakan elektroda-elektroda kecil yang ditempelkan di kulit dada, lengan, dan tungkai. Pemeriksaan EKG dapat dilakukan dalam posisi tiduran atau saat melakukan aktivitas, seperti berlari di atas mesin treadmill.
  4. Paps smear. Paps smear disarankan untuk wanita yang memasuki usia 21 tahun dan sudah pernah berhubungan seksual, setiap 3 tahun sekali guna mendeteksi kanker serviks. Setelah usia 30 tahun, wanita dianjurkan untuk melakukan paps smear setiap 5 tahun sekali, sedangkan setelah usia 65 tahun, tidak perlu melakukan pemeriksaan paps smear, bila tidak timbul keluhan.

Setelah Medical Check Up

Bila ditemukan kelainan pada hasil medical care, akan dianjurkan untuk melakukan evaluasi lebih lanjut terhadap kelainan tersebut. Dokter juga akan menyarankan untuk menerapkan pola hidup sehat, baik ditemukan kelainan atau tidak, seperti:

  • Mengonsumsi makanan sehat. Perbanyak porsi sayuran dan buah-buahan, serta batasi konsumsi makanan berlemak.
  • Rutin berolahraga. Sediakan waktu untuk berolahraga setidaknya 150 menit per minggu, misalnya dengan berjalan kaki, untuk menurunkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan kanker.
  • Berhenti merokok.

Seiring bertambahnya usia seseorang, maka disarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin guna mencegah potensi berbagai penyakit atau gangguan kesehatan. Medical check up disarankan bagi orang dewasa (di atas 18 tahun) dengan frekuensi 5 tahun sekali sampai usia 40 tahun. Bagi yang berusia di atas 40 tahun, disarankan untuk melakukan medical check up dengan frekuensi setiap 1-3 tahun sekali.

Risiko Medical Check Up

Tiap pemeriksaan dalam medical check up memiliki kegunaan dan manfaat, sekaligus efek samping. Salah satunya adalah pemeriksaan foto Rontgen yang dapat membuat tubuh terpapar radiasi, meskipun dalam jumlah yang sangat kecil. Oleh karena itu, dokter akan menilai keuntungan dan kerugian dari tiap bentuk pemeriksaan medical check up yang akan dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *