Kanker Indung Telur Pemeriksaan dan Gejalanya

09Jul, 2019

Kanker indung telur (ovarium) adalah jenis penyakit langka namun sangat mematikan. Kndisi ini bisa menyerang setiap saat dalam kehidupan seorang wanita. Sampai saat ini, kanker ovarium dikenal sebagai “silent killer” karena biasanya tidak ditemukan gejala apapun sampai diketahui telah menyebar ke bagian tubuh lain.

Dikatakan oleh dr. Eva Melinda, perlindungan terbaik adalah melalui pencegahan, memahami risiko dan mengenali tanda-tanda yang berpotensi kanker ovarium. Penting bagi wanita untuk membiasakan hidup sehat, dan segera pergi ke dokter jika terjadi perubahan dalam tubuh mereka.

Setidaknya, pendeteksian kanker ovarium sejak masih dini akan meningkatkan kelangsungan hidup seseorang selama lima tahun. Yang tadinya 30 persen menjadi lebih dari 90 persen. “Tetapi gejala kanker ovarium, seringkali mirip dengan kondisi lain sehingga sulit untuk mengenalinya,” jelasnya.

Perempuan harus menyadari kemungkinan tanda-tanda peringatan dini yang meliputi, perut kembung, nyeri pada panggul atau perut. Tanda lain kanker indung telur seperti kesulitan makan atau cepat merasa kenyang, gangguan kemih  dan bertambahnya ukuran perut. “Jika wanita mengalami beberapa gejala penting di atas setiap hari selama dua sampai tiga minggu. Dianjurkan untuk segera melakukan konsultasi dengan dokter,” jelasnya.

Meski gejalanya tidak jelas, tetapi ada faktor-faktor yang mungkin dapat mengembangkan penyakit ini. Termasuk di antaranya; mutasi gen BRCA, ada riwayat kanker payudara atau riwayat keluarga dengan kanker ovarium, usia di atas 45 dan obesitas. “Pada wanita yang berisiko tinggi, disarankan untuk melakukan skrining pada usia 20 sampai 25 tahun,” tambahnya.

Pemeriksaan darah dan USG pada Kanker Indung Telur

Saat ini terdapat beberapa strategi untuk memantau perempuan dengan risiko kanker ovarium, di antaranya, melalui pemeriksaan fisik, USG dan tes darah setiap enam bulan. Tujuan dari program ini untuk membantu perempuan memahami risiko mereka secara lebih personal. Disamping juga untuk membantu mengembangkan metode pencegahan dan deteksi dini.

Studi menunjukkan, ada cara untuk menekan risiko seorang wanita mengidap penyakit itu. Pada wanita yang menggunakan pil KB selama setidaknya lima tahun, tiga kali lebih kecil kemungkinannya mendapatkan kanker ovarium. Selain itu, bentuk kontrol kelahiran permanen seperti ligasi tuba diketahui dapat mengurangi risiko kanker ovarium sebesar 50 persen.

“Makan diet kaya buah dan sayuran, berolahraga secara teratur, menjaga berat tubuh normal dan mengelola stres adalah cara bagi wanita dalam membantu mengurangi risiko kanker ovarium,” tambahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *