Autisme dan Gangguan Penglihatan

08Agu, 2019

Tak banyak yang Mira ketahui tentang autisme hingga akhirnya ia sendiri memiliki putra yang menderita autis. “Rasanya perih sekali mengetahui bahwa anak yang saya cintai dan rawat sejak kecil ternyata berbeda dari anak-anak lainnya. Yang menyesakkan itu adalah saat Ben tidak melihat mata saya saat berbicara dengannya. Saya merasa bertepuk sebelah tangan.” Namun, Mira tidak putus asa. Setelah mencari informasi ke sana ke sini, Mira mengetahui gejala yang terjadi pada penderita autisme ternyata sebagian berkaitan dengan gangguan mata. “Saya bersyukur Ben mendapat terapi yang tepat. Sekarang ia sudah dapat berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya dengan lebih baik.” Gangguan mata apa yang terjadi pada anak autisme, bisakah disembuhkan, dan bagaimana mengatasinya?

Mengganggu interaksi dan perkembangan anak

Autisme adalah gangguan neurobiologis yang menyebabkan penderitanya sulit memroses dan merespons informasi dari luar. Akibatnya, penderita autisme menjadi sulit berkomunikasi dan melakukan interaksi sosial. Mereka sering tidak merespons bila diajak berinteraksi. Selain itu, tingkat perkembangan anak penderita autisme dan responsnya terhadap rangsang sensorik seringkali terlambat dibanding anak seusianya.

60-70% anak penderita autisme mengalami gangguan penglihatan. Padahal, penglihatan adalah indera yang berperan penting di dalam proses belajar anak. Anak-anak ini terlahir dengan kondisi penglihatan yang buruk sehingga mereka tidak tahu bahwa ada yang salah pada penglihatannya. Ditambah lagi kurangnya kemampuan penderita autisme untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan. Akibatnya, gangguan penglihatan pada penderita autisme sering tidak terdeteksi dan berujung pada keterlambatan perkembangan.

Tidak banyak yang tahu bahwa kebiasaan penderita anak autisme seperti kurangnya kontak mata, tampak memandang jauh atau di luar objek. Mereka juga sensitif terhadap cahaya, dan reaksi aneh saat mendapat rangsang visual disebabkan oleh gangguan penglihatan yang dapat diobati. Namun, karena penderita autisme sering mengalami gangguan ketajaman penglihatan yang ektrim, pemeriksaan mata terhadap penderita autisme sering hanya dilakukan terhadap visus atau ketajaman penglihatan saja. Padahal, gangguan mata pada penderita autisme bersifat kompleks dan tidak dapat diatasi hanya dengan memberikan kacamata.

Akibat gangguan ketajaman penglihatan dan gangguan koordinasi otak

Gangguan penglihatan pada penderita autisme disebabkan oleh kombinasi antara ketajaman penglihatan yang buruk dan ketidakmampuan otak untuk mengolah apa yang dilihat oleh mata. Gejala gangguan penglihatan ini sering terlihat sebagai gejala autisme itu sendiri. Anak tampak menghindari kontak mata, menyukai atau terus-menerus melihat ke objek yang berputar atau cahaya yang terang, melihat dengan arah menyamping, menatap jauh di belakang objek, dan sulit memfokuskan pandangan ke seuatu objek.

Penderita autisme memang seringkali mengalami gangguan ketajaman penglihatan berupa rabun jauh atau astigmatisma. Namun, masalah tidak selesai hanya dengan memberikan kacamata. Pasalnya, meski dapat melihat dengan jelas, otak anak penderita autisme mengalami kesulitan untuk mengolah informasi yang disampaikan oleh mata.

Dikatakan oleh dr. Eva Melinda, gangguan penglihatan pada penderita autisme sering disebabkan oleh gangguan koordinasi penglihatan sentral dan perifer. Penglihatan sentral adalah apa yang kita lihat dan fokuskan di tengah penglihatan, sedangkan penglihatan perifer adalah apa yang kita lihat di sekitar fokus tersebut. Misalnya, saat membaca tulisan di papan tulis di dalam kelas, kita masih dapat melihat guru, murid-murid lain, meja dan lingkungan di sekitar kita walaupun tidak memfokuskan penglihatan ke objek-objek tersebut.

Hal ini tidak terjadi pada penderita autisme. Anak penderita autisme hanya memfokuskan penglihatannya pada penglihatan sentral dan mengabaikan penglihatan perifernya. Misalnya, saat melihat wajah seseorang, anak mungkin melihat fokus ke hanya salah satu bagian wajah seperti hidung, mata, mulut, atau dahi terus-menerus dalam waktu lama secara terpisah dan acak. Karena informasi yang diterima tidak lengkap dan terpisah-pisah, otak tidak dapat memproses informasi visual dengan sempurna dan tidak dapat melihat gambaran wajah yang utuh. Hal ini juga yang membuat anak sering seolah tampak tidak menyadari kehadiran orang lain di ruangan yang sama.

Bertahap Memahami Objek

Jika diminta untuk mengikuti suatu objek dengan mata, anak tidak akan melihat langsung melainkan akan seperti memindai atau melihat ke arah di samping objek tersebut. Penderita autisme juga kerap sulit untuk mempertahankan perhatian visual.

Penderita autisme banyak yang mengalami gangguan pergerakan mata atau mata juling. Hal ini membuat penglihatannya tidak bisa fokus dan buram sejak lahir. “Hal ini dapat mencetuskan penurunan kondisi mata yang disebut ambliopia (mata malas),” jelasnya. Akibatnya, perkembangan motorik, kognitif, kemampuan bicara, dan persepsi anak penderita autisme juga semakin terganggu. Gangguan pergerakan mata dan mata juling juga dapat membuat anak kesulitan untuk melihat secara tiga dimensi serta sulit mengoordinasikan mata dan tangannya.

Penderita autisme cenderung sensitif dan defensif terhadap sentuhan atau rangsang visual. Mereka yang defensif terhadap rangsang berupa sentuhan akan mudah terstimulasi oleh sentuhan sehingga selalu bergerak atau bergoyang serta menghindari sentuhan dengan tekstur tertentu. Sedangkan anak yang defensif terhadap rangsang visual akan menghindari kontak dengan pemandangan tertentu dan mungkin memiliki penglihatan yang sensitif. Mereka sulit untuk mempertahankan pandangan pada satu objek dan melihat hanya dengan memindai atau melihat sekilas. Ini yang mengakibatkan anak jadi seolah enggan melakukan kontak mata.

Perlu pemeriksaan untuk menentukan terapi yang sesuai

Metode untuk memeriksa penglihatan pada penderita autisme bergantung pada derajat perkembangan, emosional, dan perkembangan fisik penderitanya. Mula-mula dokter akan menanyakan riwayat kesehatan anak secara menyeluruh dan melakukan pemeriksaan terhadap penglihatan. “Yang diperiksa di antaranya ketajaman penglihatan, pergerakan dan fiksasi mata, persepsi kedalaman, penglihatan terhadap warna, kemampuan koordinasi kedua mata dan fokus, kesehatan mata, lapang pandang, serta ada tidaknya rabun jauh, rabun dekat, dan/atau astigmatisma,” paparnya.

Pemeriksaan biasanya dilakukan dengan meminta anak mengenakan lensa khusus sambil melakukan aktivitas tertentu seperti duduk, berdiri, berjalan, bermain lempar dan tangkap bola, dan sebagainya. Dokter akan mengamati adaptasi postur anak dan kompensasi yang dilakukan anak dengan dan tanpa lensa. Hal ini dapat memberi petunjuk bagaimana anak tersebut melihat dan terapi untuk mengatasinya.

Meningkatkan performa dan mengurangi gejala autisme

Tujuan utama terapi visual pada penderita autisme adalah untuk meningkatkan performa penglihatan anak. Terapi visual efektif untuk membantu anak yang mengalami ganggguan persepsi kedalaman, ganggguan koordinasi antara mata dan tangan, kurangnya perhatian atas kehadiran seseorang di suatu tempat, serta kurangnya kontak mata. Terapi ini diberikan per kasus sesuai dengan kebutuhan dan dapat disesuaikan secara berkala berdasarkan perkembangan yang terjadi. Tujuannya adalah agar anak mendapat penglihatan yang lebih fokus dan baik.

Bila terdapat gangguan visus, dapat diperbaiki dengan kacamata. “Sedangkan untuk memperbaiki lapang pandang, melatih koordinasi mata, dan sistem penglihatan di otak dapat dilakukan terapi aktivitas,” jelasnya. Terapi aktivitas dilakukan untuk merangsang penglihatan, pergerakan mata, dan sistem penglihatan di otak. Dengan demikian, anak dapat mengatur lapang pandang, mendapatkan penglihatan perifer yang stabil, dan mengoordinasikannya dengan penglihatan sentral. Dengan demikian, ia dapat memroses informasi visual dengan lebih baik dan mendapat gambaran penglihatan secara utuh.

Meski tujuan awalnya terapi visual bertujuan untuk memperbaiki penglihatan, ternyata perbaikan ini secara tidak langsung juga dapat membantu mengurangi gejala-gejala autisme. Dengan penglihatan yang lebih baik, kontak mata dan kehidupan sosial anak menjadi lebih baik, anak tidak lagi banyak bergoyang dan menatap, dan perkembangannya juga akan semakin baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *