Dr Terawan, Sang Dokter Cuci Otak – DSA

20Jul, 2019

Dr dr Terawan Agus Putranto, SpRad(K), mengatakan semakin tinggi kedudukan seseorang, dia semakin dituntut untuk melayani orang lain. Sebelum menjadi dokter, ia seorang tentara. Ia mendapat beasiswa untuk mengikuti pendidikan kedokteran di FK Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Kelahiran Citi Sewu (utara Stasiun Tugu) Yogyakarta 5 Agustus 1964 ini, sejak kecil memang ingin sekali menjadi dokter. Lusus dokter tahun 1990 ia ditugaskan Bali, kemudian Lombok dan terakhir Jakarta. Ia kemudian mengambil spesialis radiologi di Surabaya. “Waktu itu, saya melihat radiologi kurang berkembang. Saya terketuk untuk mengembangkan radiologi intervensi,” ujarnya.

Radiologi intervensi adalah bidang kedokteran yang mempergunakan alat imaging untuk membantu memasukkan alat ke tubuh pasien, melalui lubang alamiah atau buatan untuk penanganan kasus pembuluh darah, syaraf dan tumor. Itu sebabnya, dr. Terawan dijuluki The Rising Star Radiologi Intervensi di Indonesia. Dalam setahun, ia menangani 500 pasien berbagai kasus. Ia yakin, ilmu yang dimilikinya bisa menjadi alteratif untuk kasus-kasus emergency. “Kita tidak kalah hebat dengan negara di Eropa dalam bidang ini. Bahkan kita lebih unggul dibanding Singapura,” ujarnya.

Ia terkesan ketika menangani pasien wanita dengan kasus kanker di leher dan kepala. Setelah diterapi, pasien tersebut satu bulan kemudian hamil. “Berarti, radiologi intervensi aman digunakan pada pasien,” ujarnya.
Karena kesibukan, terkadang sang istri (Ester Dahlia) yang menemuinya di rumah sakit. Di saat lain, ia mengajak istri dan anaknya (Abraham Apriliawan) mengikuti undangan simposium atau untuk melakukan tindakan intervensi, di dalam atau di luar negeri. “Kalau tidak bisa melayani keluarga, jangan berpikir untuk melayani orang lain,” ujarnya tentang arti penting keluarga.

Hobi Dr Terwan

Dokter yang hobi makan lontong balap dan tahu campur ini, meski dilarang oleh anak, tetap bersikeras untuk menyanyi karena sudah menjadi hobi. “Nggak masalah saya tidak sampai selesai melantunkan syair lagu. Saya menyanyi untuk menghilangkan stress,” dr. Terawan tertawa.

Meski demikian terapi ‘cuci otak’ dengan Digital Substraction Angiography (DSA) ini menuai kontroversi di kalangan medis Indonesia. “(Kemenkes) sebenarnya sudah (memberi izin), kalau tidak memberikan pasti ada surat keputusan untuk tidak boleh melakukan,” ujar dr Terawan.

Menurut dr Terawan, hal ini berkaitan dengan kompetensi radiologi intervensi. Yaitu sub-spesialisasi radiologi yang memanfaatkan prosedur minimal invasif untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit pada hampir semua organ tubuh.

“Ini masalah kompetensi, saya kebetulan Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Radiologi Indonesia, ketua umumnya saya . Dan saya punya kolegium untuk PDSRI. Itulah yang mengatur kompetensi dan inilah kompetensi yang diakui merupakan kompetisi radiologi intervensi, bagian dari radiologi,” jelas dr Terawan.

“Kalau kompetensi lain mau ngomong yang bagaimana, ya biarin saja. Ini adalah kompetensi radiologi. Kalau nggak percaya ya memang bukan ilmunya, ini adalah ilmu radiologi intervensi,” lanjutnya. Dr Terawan berharap temuannya ini tidak dipermasalahkan lagi. Karena sudah banyak masyarakat, baik Indonesia maupun dunia yang melakukan terapi DSA ini.

“Terus yang dipermasalahkan apanya? Wong seluruh dunia ikut ke sini, ya kita mempermalukan diri sendirilah,” kata dr Terawan.Ia menyebut selain dari Indonesia, pasiennya berasal dari belahan benua lain, seperti Amerika dan Eropa. Masyarakat dari beberapa negara Asia, seperti Korea, Jepang, dan Cina pun pernah menjadi pasiennya untuk terapi ‘cuci otak’ ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *