Dr Ferdhy Suryadi Suwandinata, SPOG dan Laparoskopi!!

07Jul, 2019

Saat duduk di bangku SMA, Dr Ferdhy Suryadi Suwandinata, SpOG, lebih tertarik mendalami bidang Teknologi Instrumentasi (IT), hanya saja saat mengikuti UMPTN pada tahun 1994, ia iseng memasukan pilihan pertamanya Fakultas kedokteran, dan baru pilihan keduanya Elektronika. “Eh ternyata Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negri (UMPTN) diterima, di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. “Masa harus dilepas, sayang juga jadi saya jalani,” paparnya. Hanya saja ia tidak terlalu terobsesi pada profesi ini. “Sudah jalannya kali ya,” jelas Dokter Ferdhy Suryadi.

Setelah masuk Fakultas Kedokteran (FK) ternyata cukup enak dan enjoy. Enak dalam artian banyak berhubungan dengan manusia, disamping itu banyak sisi lain dari profesi dokter seperti membantu menolong sesama.

Dr Ferdhy Suryadi, lulus dokter umum pada tahun 2000. “Saya kebetulan saat itu tidak mengikuti PTT, karena dihapuskan,” jelasnya. Oleh karena itu ia langsung memutuskan melanjutkan pendidikan program studi S2 dan tak tanggung-tanggung ia memilih meneruskan pendidikanya di luar negeri.

Jerman menjadi Negara pilihannya. “Disana saya mengambil obstetri dan ginekologi,” jelasnya. Ia mengatakan banyak sekali perbedaan antara Indonesia dengan Jerman terutama dalam bidang kesehatan. “Terutama mengenai komposisi penyakitnya,” paparnya. Kasus obstetri di Jerman sudah jarang ditemui. “Angka persalinan di Eropa itu kecil,” jelasnya. Sementara kondisi yang terjadi di Indoensia ternyata sebaliknya. Seperti contoh penyakit yang di Indonesia banyak, seperti eklampsia di Jerman jarang sekali ditemukan. “Saya selama sekolah disana ketemu kasus eklampsia itu cuma satu,” jelas Dr Ferdhy Suryadi. Hal ini disebabkan antenatal care di Jerman sangat bagus.

Di Jerman pendidikan spesialis lebih diarahkan ke klinis (hospital based). Para residen langsung dilepas dilapangan. “Periksa pasien, semuanya dilakukan sendiri. Gak kayak di Indoensia ada pembimbingnya, ditambah lagi sesi jurnal reading. Dokter di Indonesia itu kesannya lebih kayak disuapin. Sementara di Jerman lebih bebas. Kalau mau dapet ilmu banyak ya haruslebih keras usahanya,” jelasnya.

Dokter Ferdhy Suryadi Pandai Berbahasa Jerman

Pandai berbahasa Jerman, itu syarat yang utama dan paling penting. “Jadi kalau bahasa Jerman tidak bisa umumnya orang jerman tidak mau ditangani. Sebaliknya kalau kita bisa ngomong, pasiennya akan senang,” ingatnya.Meski terkesan cuek-cuek orang Jerman itu terlihat lebih disiplin. Jadi kalau dokter masuk jam 08.00 ya jam 08.00 sudah ada disana. Dan ketika pukul 16.00, jam kerja sudah habis seorang dokter akan pulang meski ada pasien yang sedang menunggu antrian. “Selesai gak selesai ya sudah ditinggal kalau sudah waktunya pulang,” jelasnya. Baik di Jerman atau di Indonesia, membangun kepercayaan pasien terhadap dokter adalah salah satu masalah yang sulit. “Tapi itu yang terus saya usahakan dan perbaiki.”

Saat pulang ke Indonesia sebagai dokter lulusan luar negeri Dr Ferdhy Suryadi diwajibkan mengikuti persamaan. “Untungnya tidak ada kendala sama sekali. Lancar-lancar saja,” jelasnya.

Dokter Ferdhy, sejak menempuh pendidikan kedokteran di Jerman memang tertarik dengan bidang bedah minimal invasive. “Ini karena di Jerman saya banyak mengerjakan teknologi ini,” jelasnya.

Jerman Saat Itu Lebih Baik

Ia mengatakan teknologi di Jerman bisa dibilang selalu baru. Semantara kalau melihat prosedur operasi, tingkat kesulitan tindakannya, semua hampir sama dengan kasus yang ada di Indonesia. “Bahkan kasus lebih sulit di Indonesia,” jelasnya. Ini karena di Indonesia banyak kasus yang neglected, karena pasien menunda-nunda terapi dengan alasan tidak memiliki biaya, ketakutan dan lain-lain. “Di Jerman seluruh warganya mengandalkan sistim asuransi kesehatan, sehinggasaat stadium penyakit pasien masih dalam tahap awal, pasien juga sudah ditangani secara baik,” jelas Dr Ferdhy Suryadi.

Setelah menyelesaikan pendidikan S2-nya selama 6 tahun, dr. Ferdhy sempat melakukan praktek di Jerman, disebuah Rumah Sakit. Ia berbagai pengalaman dalam mengani pasien disana. Menurutnya sistim kesehatan di Jerman lebih komperhensif. “Ini karena dokternya langsung ‘one to one’ dengan pasiennya,” jelasnya. Umumnya sistim pelayananan Rumah Sakit Umum di Indonesia, setelah diperiksa di Poliklinik, pasien kemudian dikirim ke ruang operasi. Nanti yang melakukan prosedur operasi dokter lain bukan dokter yang menerimanya di Poliklinik, dan ketika selesai operasi di hari berikutnya yang menagani pasien juga dokternya sudah lain lagi. “Kalau di Jerman tidak, misalnya saya yang menerima di Poliklinik, nanti di ruang operasi saya juga yang menangangi. Bahkan hingga pasien pulang,” jelasnya.

Laparoskopi Ketertarikan Dr Ferdhy Suryadi

Ketertariknya terhadap bidang bedah minimal invasive terutama laparoskopi karena menurutnya tindakan ini lebih terencana/elektif.

Di Indonesia dokter obgin yang tertarik laparoskopi jumlahnya juga cukup banyak. “Sekitar 200 orang,” jelasnya. Ini karena laparoskopi memiliki beberapa keungulan diantaranya mampu mengurangi rasa nyeri yang dirasakan oleh pasien karena sayatan lebih minimal. Luka minimal, pasien bisa lebih cepat pulih dan perlengketan juga minimal. Karena operasi ini menggunakan alat bantu yaitu kamera, dari yang tadinya kelihatan jauh jadi kelihatan dekat dan jelas. Daerah-daerah tertentu yang tidak bisa kita capai dengan laparotomi dengan teknologi laparoskopi dapat kita lakukan dan arahkan. “Bahkan sekarang ini ada fleksible endoscope, ini tentunya akan memberikan hasil yang lebih baik, lebih terarah,” jelasnya.

Meski saat ini biaya untuk operasi laparoskopi masih lebih mahal, nantinya tindakan ini akan sama dengan laparotomi. “Saat ini mahal karena alat yang masih mahal, obat bius yang digunakan juga lebih mahal,” paparnya. Bahkan di Negara-negara Eropa saat ini laparotomi lebih mahal di bandingkan laparoskopi. Karena biaya rawat pasien lebih lama menjadikan total biaya yang dikeluarkan pada prosedur laparotomi menjadi lebih banyak di banding laparoskopi.

Kasus yang ia tangani dengan teknologi laparoskopi juga cukup bervariasi. “Bahkan hampir semua kasus ginekologi bisa dilakukan,” jelasnya. Obstetric juga bisa, seperti pada fetoscopy, selain melihat langsung kondisi janinsekaligus juga dapat dilakukan pengobatan pada kondisi penyakit atau kenainan tertentu.

Kasus-kasus yang ia kerjakan melalui laparoskopi diantaranya sterilisasi, kista, angkat rahim, angkat miom, sampai kanker serviks dapat pula dilakukan dengan laparoskopi.

Hobi dan Harapan Dr Ferdhy Suryadi

Dokter Ferdhy, praktek di beberapa rumah sakit diantanya Rumah Sakit Ibu dan Anak Family Pluit dan Rumah Sakit Ibu dan Anak Grand Family Pantai Indah Kapuk serta Rumah Sakit Khusus Bedah Tzu Chi, Cengkareng

Hobinya dahulu adalah fotografi tepatnya saat ia masih duduk di bangku kuliah, sementara untuk menjaga kesehatannya ia memilih berolahraga dengan bermain badminton. “Tapi sekarang udah susah bagi waktunya, pulang kerumah rasanya sudah capek,” jelasnya.

Kedepan ia berharap bidang bedah minimal invasive terutama laparoskopi di Indonesia bisa lebih maju. Ia juga berharap ada sentralisasi atau klasifikasi kasus tertentu di rumah sakit tertentu. Agar supaya pasien mendapatkan terapi yang lebih paling baik. “Soalnya di Jerman seperti missal kasus A paling bagus di lakukan di Rumah Sakit B, semantara kasus C lebih baik dikerjakan di Rumah Sakit D karena ternyata hasilnya lebih baik” tutup pria kelahiran Jakarta, 2 Februari 1977 ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *