Dr Farida Briani, Dokter Bedah Main Film

09Okt, 2019

Dr Farida Briani, SpB(K), bisa dibilang unik. Dari sekian banyak dokter yang ditemui tim dokter eva communication, ada dokter yang pandai menyanyi. Ada dokter yang pandang berakting sekaligus menjadi presenter. “Saya sendiri, dokter yang main film tanpa sengaja, karena dikejar deadline,” ujar dr. Farida Briani, SpB (K) Onk, di sela peluncuran FTV “Derita Dinda” di Hotel Four Season, Jakarta.

Sebenarnya ia tidak ingin menjadi pemain, dalam film yang digagasnya. Ia lebih memilih menjadi sosok di balik layar yang membuat ide, yang selanjutnya diolah oleh seorang sutradara. “Tapi, kami dikejar deadline, dan saya ikut bertanggung jawab. Akibatnya, ikut jadi pemain meski grogi,”  ia tertawa.

Ide awal pembuatan film, muncul sejak ia belum lulus dari bedah onkologi, saat itu ia bekerja di poliklinik di RSCM. Saat itu, poli RSCM bisa menerima 100 pasien/hari, 60-80% pasien dengan kanker payudara, dan 60% pasien stadium 3 atau lebih. Ia merasa iba, karena meski telah banyak melakukan edukasi lewat seminar, jumlah penderita tetap banyak.

Dr Farida Briani dan Film Kejar Tayang

“Saat itu saya melihat sinetron lagi booming. Terpikir, kenapa tidak kita buat sinetron yang  memberi edukasi tentang pencegahan atau deteksi dini kanker payudara? Mungkin akan lebih bisa diterima masyarakat,” ujarnya. Ide itudisetujui Prof. dr. Muchlis Ramli, SpB (K) Onk.

Akhirnya, setelah lulus bedah onkologi dan bertemu dengan LSM Forpublik, film ini pun dibuat. Saat terhalang masalah dana, ia datang ke dr. Sonar Soni Panigoro, SpB (K) Onk. Dari sini, ia dipertemukan dengan PT Medco Indonesia Tbk, yang kemudian setuju untuk memberikan dana untuk produksi film. Perusahaan farmasi seperti PT Roche Indonesia dan AstraZeneca ikut membantu.

Film ini berdurasi 57 menit. Dan meski sudah jadi film, untuk tayang masih banyak kendala. “Baru TVRI yang mau menayangkan, itu pun dengan biaya, tidak free. Padahal tujuan kami mengedukasi masyarakat.” Kelahiran Yogyakarta, 29 September 1972, ini berharap film “Derita Dinda” bisa diperbanyak dan ditayangkan di ruang tunggu rumah sakit, untuk edukasi mengenai SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) sebagai diagnosis awal kanker payudara. Ingin main film lagi? “Kalau main tidak, kalau di balik layar oke.” (ant)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *