Dokter Libur Sabtu Minggu, Bolehkah?

30Jun, 2019

Jangan sakit di hari Minggu. Hari Minggu dokter libur. Lho, sakit kan tidak dapat diprediksi kapan datangnya? Lalu kalau terpaksa sakit di hari Minggu bagaimana? Etiskah dokter libur di hari Minggu?

Dilema antara Pelayanan Optimal dengan Kurangnya Tenaga Kesehatan

Di Indonesia, belum ada peraturan mengenai jam kerja dokter sehingga sebagian besar dokter mengatur jadwal kerjanya sendiri. Sistem shift yang diberlakukan di rumah sakit tidak menjamin dokter tidak bekerja lembur. “Di Indonesia, satu orang dokter diperbolehkan untuk praktik maksimal di tiga tempat,” jelas dr. Zaenal Abidin, MH.Kes. Sepulang bekerja selama delapan jam di rumah sakit, dokter dapat membuka praktik sore di rumah atau di rumah sakit lain. Dengan demikian, jumlah total jam bekerjanya dapat melebihi 8 jam per hari.

Hal ini terutama didorong oleh kebutuhan masyarakat terhadap jasa dokter. Perbandingan antara dokter dan pasien di Indonesia saat ini adalah 1 : 10.000. Kesenjangan ini jauh lebih besar lagi pada dokter spesialis. Dengan demikian, dengan praktik di beberapa tempat dokter dapat membantu memeratakan dan memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan yang menjadi bidang keahliannya di berbagai tempat.

Dilema lain yang menjadi perhatian adalah jam kerja yang panjang bagi dokter magang. Bagi dokter muda yang sedang magang di rumah sakit, semakin banyak menemui dan merawat pasien, pengetahuan dan pengalamannya akan semakin kaya.

Lalu, apakah dokter dapat memberikan pelayanan yang optimal jika ia bekerja dengan jam kerja yang panjang? Perlu diketahui, jam kerja dokter tidak dapat menjadi satu-satunya patokan dalam menilai kualitas kerja sang dokter. Bandingkan antara dokter yang bekerja di klinik 24 jam dengan 20 pasien per hari dan dokter yang bekerja 8 jam di puskesmas dengan 80 pasien per hari. Jumlah pasien yang sangat banyak dan harus diperiksa dalam waktu singkat tentu membuat dokter yang bekerja di puskesmas lebih lelah.

Dokter Juga Manusia

Karena profesi yang bersifat mulia, banyak dokter yang dianggap bukan dokter yang baik jika tidak bersedia mengorbankan kepentingan pribadinya, termasuk kepentingan berlibur di hari Minggu. Dokter dituntut harus selalu dalam keadaan siaga dan konsentrasi penuh meski sudah bekerja melebihi jam kerja normal. Padahal, dalam dunia kedokteran, ada istilah “first do no harm”. Singkatnya, ini berarti jangan sampai dokter malah melukai atau membuat kondisi pasien bertambah parah. Dokter juga selalu diingatkan untuk melindungi diri sendiri terlebih dahulu sebelum menolong orang lain. Hal-hal inilah yang membuat dokter punya alasan kuat untuk punya waktu libur.

“Sebagai manusia biasa, dokter tentu juga punya kehidupan pribadi dan keluarga,” jelasnya. Maka, semakin ke sini, semakin banyak dokter yang ingin punya waktu lebih banyak bagi keluarganya, terutama dokter-dokter wanita yang notabene juga seorang ibu. Banyak dokter wanita yang mengalami dilema. Di satu sisi ingin memantau pertumbuhan putra-putrinya, di sisi lain ia harus lembur karena pasien yang ditangani belum stabil, mendapat shift di hari libur, atau terpaksa meninggalkan rumah tengah malam karena mendapat panggilan darurat.

Menurut Undang-undang Ketenagakerjaan, lama kerja maksimal seorang pekerja dalam perusahaan adalah 40 jam setiap minggunya. Ini setara dengan 8 jam per minggu selama lima hari kerja atau 7 jam per hari selama 6 hari kerja. Dengan jam kerja seperti ini, tenaga kerja diharapkan dapat bekerja secara optimal serta mengurangi terjadinya human error dan kecelakaan kerja.

Dokter Libur Kurangi Human Error

Hal ini selayaknya berlaku bagi tenaga kerja yang bekerja di rumah sakit, termasuk dokter. Meski demikian, masyarakat awam kerap menganggap bahwa tidak etis jika seorang dokter libur di hari Sabtu dan Minggu. Lalu, apakah benar dokter tidak boleh libur?

Hingga kini belum ada peraturan khusus yang mengatur tentang jam kerja dokter di Indonesia. Setiap rumah sakit dan klinik memiliki jadwal kerja dokter yang berbeda-beda. Jam kerja dokter di rumah sakit atau klinik swasta umumnya terbagi dalam sistem shift. Setiap shift dapat terdiri dari 8 jam, 12 jam, atau bahkan 24 jam. “Sistem ini diberlakukan agar pelayanan kesehatan dapat terus tersedia bagi masyarakat, termasuk pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional,” tambahnya. Sistem shift juga diberlakukan untuk menjaga kualitas pelayanan yang diberikan dokter. Anda tentu tidak mau diperiksa dan diobati oleh dokter yang sudah terlihat awut-awutan, capek, mengantuk, atau emosional karena sudah bekerja lembur tanpa tidur.

Pelayanan kesehatan 24 jam seperti ini dapat dengan mudah kita jumpai di kota-kota besar dan diterapkan di rumah sakit dan klinik dengan jumlah tenaga dokter yang banyak. Namun, jika yang Anda hadapi adalah praktik pribadi, sudah sewajarnya dokter tidak buka pada hari Sabtu, Minggu, atau libur nasional. Bagaimanapun juga dokter adalah manusia. Butuh istirahat, butuh makan, dan butuh waktu untuk kehidupan pribadinya. Dokter yang stress, capek, dan mengantuk tentu menyebabkan pelayanan menjadi kurang optimal. Jika dokter senang, Anda tentu akan mendapat pelayanan penuh senyum dan lebih teliti. Jadi, tidak benar jika tidak ada dokter yang berpraktik di hari libur. Anda hanya perlu mencari di tempat yang tepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *