Apoteker Tidak Ada di Apotik ?

07Jul, 2019

“Saya pernah ke apotek membeli obat batuk sirup untuk anak saya. Tapi saya agak kaget waktu petugas apotek tersebut malah menawarkan antibiotik yang golongannya cukup kuat,” cerita Bu Indah (bukan nama sebenarnya) yang kebetulan berprofesi sebagai dokter. “Karena penasaran, saya tanya kepada petugas tersebut apakah ia seorang Apoteker. Ternyata bukan dan apotekernya juga tidak sedang di tempat.”

Saya yakin, hampir semua pembaca tentu pernah membeli obat di apotek. Namun, tahukah Anda siapa yang melayani di balik meja apotek tersebut? Apakah apoteker, asisten, atau malah orang awam sama seperti Anda yang tidak tahu-menahu tentang obat? Sudah rahasia umum bahwa sebagian besar apotek di Indonesia tidak memiliki apoteker yang berada di tempat. Meski demikian, tidak banyak masyarakat yang mengeluhkan hal ini. Sebenarnya bagaimana aturannya? Perlukah kehadirannya di apotek dan apa perannya?

Tugas

Bisnis obat sejak dahulu merupakan lahan yang menggiurkan. Jangankan apotek, tukang obat keliling saja selalu laris manis bak gula dikerubuti semut. Tidak heran jika bisnis apotek menjamur, mulai dari pemain besar dengan banyak cabang hingga apotek milik perorangan. Bisnis obat ini ternyata tidak hanya menarik kalangan apoteker, tetapi juga orang awam yang murni pengusaha. Pada akhirnya, demi memenuhi syarat pendirian apotek, banyak pengusaha yang ‘menyewa’ Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA), tanpa mewajibkan apoteker tersebut siap sedia di tempat. Sebenarnya apa tugasnya dan dampaknya bagi konsumen?

Apoteker (Apt) adalah sarjana farmasi yang telah terlatih secara profesional di bidang pelayanan obat dan pasien. Jadi, seorang apoteker tidak hanya bertugas membuat obat dan menyalurkannya kepada masyarakat, tetapi juga harus memberikan informasi dan edukasi kepada pasien mengenai obat yang akan diberikan. Mulai dari cara minum obat, penyimpanan obat, efek samping obat, hingga interaksi obat dengan obat lain. Apoteker juga bertanggung jawab untuk memastikan kualitas dan keaslian obat, pengamanan obat, serta pengadaan, penyimpanan dan penyaluran, serta pengelolaan obat. Ini semua diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. Singkatnya, Apt bertanggung jawab agar pasien mendapat obat yang benar, berkualitas, dan mengerti seluk beluk obat yang diberikan kepadanya.

Apoteker Tidak di Tempat

Pada kenyataannya, hal ini masih jauh dari harapan. Banyak apotek, baik yang dimiliki oleh apoteker ataupun bukan, yang apotekernya hampir tidak pernah ada di tempat. Umumnya apoteker yang STRAnya terpampang di apotek memiliki pekerjaan di tempat lain atau hanya sesekali datang melihat kondisi apotek. Pada akhirnya, apotek tak ubahnya seperti toko obat yang sekedar menjadi tempat peracikan dan penyaluran obat.

Pemilik apotek juga lebih suka mempekerjakan asisten apt atau orang awam dengan tujuan menekan pengeluaran untuk karyawan. Cukup dengan memberikan sejumlah uang sesuai perjanjian, pemilik apotek dapat mendirikan apotek atas nama Apt tersebut. Lantas samakah dengan Dokter yang tidak ada di Klinik saat kita berobat?

2 Comments

  • Yulianto Juli 10, 2019 @ 10:33 pm

    Bisa ya apotekernya g ada? Terus gmana obatnya?

    • admin Agustus 8, 2019 @ 5:58 pm

      Ini yang menjadi pertanyaan. Semoga bisa lebih baik lagi kedepannya. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *